Permintaan energi listrik maksimum dikenal sebagai peak demand. Adalah penentu utama dari tagihan listrik bulanan, khususnya untuk fasilitas komersial besar. Lonjakan konsumsi daya sesaat ini sering kali dikenakan biaya tinggi (demand charge) oleh penyedia listrik.
Untuk mengatasi tantangan biaya ini, fasilitas komersial harus menerapkan strategi Peak Shaving yang efektif dan teroptimalisasi.
Peak Shaving adalah praktik mengurangi atau memotong permintaan listrik pada saat mencapai puncaknya. Tujuannya bukan hanya menghemat energi secara keseluruhan, tetapi secara spesifik menghindari tarif tertinggi yang dikenakan selama periode beban puncak. Mengoptimalkan strategi ini adalah langkah krusial menuju efisiensi energi yang berkelanjutan dan penghematan biaya operasional yang signifikan.
Memahami Demand Charge dan Pentingnya Peak Shaving
Penyedia layanan listrik mengenakan demand charge berdasarkan penggunaan daya tertinggi yang tercatat dalam periode waktu singkat yakni hanya 15 hingga 30 menit selama siklus penagihan.
Meskipun ini hanya terjadi sesekali, angka ini dapat mencapai 20% hingga 70% dari total tagihan listrik bulanan. Oleh karena itu, mengontrol peak demand adalah pengungkit finansial terbesar dalam manajemen energi fasilitas komersial.
Strategi Peak Shaving yang terencana dengan baik memastikan bahwa fasilitas komersial tidak menarik daya dari jaringan (grid) melebihi ambang batas tertentu selama periode tarif puncak.
Pilar Strategi Optimalisasi Peak Shaving
Optimalisasi Peak Shaving melibatkan perpaduan antara teknologi canggih, manajemen operasional yang cerdas, dan analisis data yang akurat. Berikut adalah strategi utama yang dapat diterapkan:
1. Analisis dan Pemantauan Beban Secara Real-Time
Analisis dan pemantauan beban secara real-time merupakan fondasi utama dalam penerapan strategi peak shaving.
Melalui penggunaan Building Energy Management System (BEMS) atau Energy Management System (EMS), konsumsi listrik dapat dipantau secara terus-menerus untuk mengidentifikasi peralatan yang berkontribusi besar terhadap beban puncak.
Selain itu, analisis data historis memungkinkan prediksi waktu terjadinya peak demand, sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan secara lebih efektif.
2. Pemanfaatan Teknologi Penyimpanan Energi (BESS)
Pemanfaatan Battery Energy Storage System (BESS) merupakan salah satu teknologi paling transformatif dalam strategi peak shaving.
Sistem ini memungkinkan energi disimpan dari jaringan atau sumber terbarukan saat beban dan tarif rendah (off-peak), kemudian dilepaskan kembali ketika peak demand terjadi, sehingga beban puncak pada jaringan dapat ditekan secara efektif.
Selain itu, BESS modern memiliki kemampuan respons yang sangat cepat terhadap lonjakan daya, jauh melampaui generator konvensional, sehingga membantu fasilitas menghindari demand charge secara lebih andal.
3. Implementasi Program Demand Response (DR) Internal
Implementasi program Demand Response internal dilakukan dengan menyesuaikan pola penggunaan energi sebagai respons terhadap kondisi beban puncak atau sinyal harga listrik.
Strategi ini dapat mencakup penjadwalan ulang pengoperasian peralatan berdaya tinggi agar berjalan di luar jam puncak, seperti mesin produksi atau pengisian kendaraan listrik.
Selain itu, penyesuaian sementara pada sistem bangunan, misalnya sedikit menaikkan setelan suhu HVAC atau meredupkan pencahayaan non-esensial, dapat menurunkan beban puncak secara signifikan tanpa mengganggu kenyamanan penghuni.
4. Optimalisasi Sistem HVAC dan Pendingin
Optimalisasi sistem HVAC dan pendingin sangat penting karena sistem ini sering menjadi kontributor terbesar terhadap peak demand pada fasilitas komersial.
Salah satu pendekatan yang efektif adalah pemanfaatan Thermal Energy Storage (TES), yaitu menyimpan energi pendinginan saat periode off-peak, misalnya dengan mendinginkan air atau membentuk es pada malam hari, untuk kemudian digunakan selama jam puncak sehingga beban kompresor dapat dikurangi.
Selain itu, penerapan kontrol cerdas berbasis prediksi cuaca dan tingkat hunian memungkinkan pengoperasian HVAC secara proaktif, sehingga lonjakan daya yang tidak perlu dapat dihindari.
Manfaat Jangka Panjang dari Optimalisasi
Optimalisasi strategi peak shaving memberikan manfaat jangka panjang yang melampaui sekadar penghematan biaya bulanan. Integrasi teknologi seperti BESS dan penerapan Demand Response meningkatkan ketahanan energi fasilitas terhadap gangguan pasokan listrik.
Selain itu, perataan kurva beban membantu mengurangi ketergantungan pada pembangkit listrik peaker yang kurang efisien dan lebih berpolusi, sehingga mendukung pencapaian target keberlanjutan perusahaan.
Pengendalian peak demand yang lebih baik juga menghasilkan biaya energi yang lebih stabil dan mudah diprediksi, sehingga mempermudah perencanaan anggaran jangka panjang.
Bagi fasilitas komersial, Peak Shaving bukan lagi opsi, melainkan keharusan strategis untuk mempertahankan daya saing operasional. Dengan mengintegrasikan sistem BEMS yang cerdas, memanfaatkan penyimpanan energi (BESS/TES), dan menerapkan program Demand Response internal yang disiplin, fasilitas komersial dapat mengoptimalkan konsumsi daya mereka, secara dramatis mengurangi demand charge, dan membuka potensi penghematan biaya yang berkelanjutan. Investasi dalam optimalisasi Peak Shaving adalah investasi dalam masa depan energi yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Dalam implementasi strategi peak shaving yang semakin kompleks, ketersediaan sumber energi yang fleksibel dan andal juga menjadi faktor pendukung penting, terutama sebagai pelengkap teknologi penyimpanan dan manajemen energi.
PGN LNG Indonesia berperan menyediakan solusi LNG yang lebih bersih dan responsif untuk mendukung keandalan pasokan energi pada fasilitas komersial dan industri.
Dengan infrastruktur LNG yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi cadangan maupun penyeimbang beban, PGN LNG Indonesia membantu pelaku usaha mengelola fluktuasi permintaan listrik secara lebih efisien, menekan risiko operasional, serta mendukung strategi efisiensi energi dan keberlanjutan jangka panjang.
