Anggota PKS Itu Mahal, Gugur Satu (Belum Tentu) Tumbuh Seribu -->

Anggota PKS Itu Mahal, Gugur Satu (Belum Tentu) Tumbuh Seribu

01 Agustus 2021, 10:37

Pandemi Covid 19 sudah berlangsung lebih dari satu tahun. Data tanggal 31 Juli 2021, total di Indonesia sudah hampir 95 ribu jiwa wafat karena wabah ini. Dan 584 di antara mereka adalah para ulama, kyai, pimpinan pesantren yang tersebar di Indonesia khususnya di daerah-daerah Madura, Kudus, Pati, Demak, hingga Jepara.


Presiden PKS Ahmad Syaikhu ikut vaksin Covid 19 di DPP PKS
Foto : Presiden PKS Ahmad Syaikhu ikut vaksin Covid 19 di DPP PKS, Sabtu (31/7/2021)

>Rasulullah SAW sudah memberitahu kita betapa bernilainya satu ulama itu. Bahkan kematian satu kaum jauh lebih ringan daripada matinya satu ulama. Sebab satu ulama bisa membawa kebaikan bagi satu kaum, sedangkan satu kaum belum tentu bisa membawa kebaikan di antara mereka sendiri.


Di level kemasyarakatan, wafatnya seorang kader dakwah jauh lebih berat daripada wafatnya satu orang yang bukan kader dakwah. Al Qur’an sendiri sudah mengkategorikan kader dakwah sebagai kelompok “platinum” alias yang terbaik, minimal karena tiga karakter: menyuruh yang ma’ruf, mencegah yang mungkar dan beriman kepada Allah (QS.Ali Imran 110).


Mengapa “beriman kepada Allah” justru di urutan ketiga? Sebab orang kafir pun banyak juga yang mengajak pada kebaikan, banyak juga yang mencegah kemungkaran. Perhatikan saja aktifis-aktifis Greenpeace. Mereka ber-“nahyi munkar” dengan mencegah korporasi raksasa mencemari lingkungan, melawan penangkapan paus, menentang deforestasi, melindungi hewan langka dan lain-lain.


Kalau sekedar ber-“amar ma’ruf”, organisasi global seperti Save The Children pun sudah melakukannya. Kontribusinya terhadap kesehatan anak di dunia, mencegah kekurangan nutrisi, pendidikan dan perlindungan anak sudah tidak perlu diragukan lagi.


Tapi apakah mereka melakukan semua itu berbasis keimanan, atau sekedar berbasis kemanusiaan? Inilah pembedanya. Tidak perlu menjadi seorang kader dakwah untuk memiliki sifat kasih sayang dan welas asih, karena itu sudah menjadi sifat dasar manusia untuk saling menolong dan menebar cinta kepada sesama.


Suasana vaksinasi di DPP PKS, Sabtu (30/7/2021)


Kader dakwah melakukan semua itu berbasis keimanan dan berorientasi pada kehidupan akhirat (afterlife oriented). Sebagai individu yang menjadikan Rasulullah SAW sebagai panutan (Ar-Rasul Qudwatuna), karakteristik-karakteristik ini sudah menjadi standard seorang kader dakwah. Mereka adalah “paket komplet” dari semua ciri kebaikan.


Rasulullah saw disifati sebagai “ahmad” (QS.61:6) yang artinya orang yang mendekati diri atau selalu memuji kepada Allah. Kata “ahmad” (jamak) berasal dari kata “hmd” (tunggal). Misalnya, ada orang yang rajin qiyamul lail namun tidak rajin sedekah. Ada yang rajin sedekah tapi tidak rajin puasa Sunnah. Ada yang rajin puasa Sunnah namun tidak rajin membaca Al Qur’an. Jadi amaliyah-nya tunggal. Sementara Rasulullah melakukan semua itu. Karena itulah beliau disebut sebagai sayyidul mursalin (penghulu para Nabi) karena beliau mendekati diri kepada Allah SWT melebihi nabi-nabi lainnya.


Begitulah ciri kader PKS. Banyak individu muslim yang rajin sholat tahajud, rajin puasa Senin-Kamis, rajin melakukan kegiatan sosial, rajin zikir, rajin memakmurkan masjid, rajin baca Al-Qur’an. Namun apakah ada yang rajin melakukan semua amalan tersebut, tidak sebagian-sebagian, dan dilakukan setiap hari secara istiqomah? Barangkali di antara yang sedikit itu adalah kader-kader PKS.


Tiap pekan kader PKS diminta mengisi form kegiatan amaliyah harian. Artinya, para kader dijaga untuk terus melakukannya dan dipantau konsistensinya. Dan ini baru ibadah ritual, belum dihitung ibadah sosial.


Seberapa mahal “harga” satu orang kader PKS? Mari kita berhitung. Katakanlah, untuk mengajak satu orang umum, yang bukan pendukung dan bukan haters, kita perlu “membeli” hatinya dengan memberikan misalnya paket bantuan sembako murah. 


Harga satu paket sembako murah biasanya 100 ribu rupiah. Dan jika Covid 19 ini sudah berlangsung selama dua belas bulan (satu tahun), maka sudah ada “biaya politik” sebesar 1,2 juta rupiah untuk mendapatkan satu calon kader. Apakah setelah itu  dia akan menjadi pemilih PKS? Belum tentu. Fakta di lapangan, bahkan mereka yang sudah jadi Kordinator RW (korwe) sekalipun ternyata juga ikutan kampanye partai lain. Barangkali “mahar”-nya sehari jelang pemilu lebih tinggi.


Kalau begitu, ada ongkos lain lagi untuk mengikat mereka, misalnya bantuan saat sakit, bantuan saat anak tidak bisa ambil ijazah kelulusan, santunan kecelakaan dll. Kalau kita genapkan ke angka dua juta rupiah per tahun, ini adalah angka paling minim untuk mendapatkan satu pemilih/simpatisan PKS.


Bagaimana loyalitasnya? Apakah mereka akan siap sedia menyediakan waktu dan tenaganya untuk kegiatan PKS tanpa dibayar? Bagaimana pengorbanannya, apakah mereka bersedia menginfakkan uangnya untuk kegiatan partai? Bagaimana keistiqomahannya, apakah mereka tidak tergoda jika ada partai lain yang tiba-tiba merayu dengan memberikan imbalan materi yang lebih besar?


Kader PKS dididik, ditempa, dibina untuk menjadi pribadi-pribadi yang “masyru’ Rabbani” alias orang-orang yang bekerja untuk proyek Allah SWT. Proses ini tidak instan, tidak hanya dengan dibayar 2 juta lalu muncul tabiat ini. Butuh waktu bukan saja setahun dua tahun, tapi bahkan puluhan tahun. Itulah yang membuat kader-kader PKS sangat mahal.


Sekjen PKS Aboe Bakar Al Habsyi ikut vaksin Covid 19 di DPP


Di masa pandemi ini, bagi seorang kader, menjaga protokol kesehatan bukan sekedar menjaga kesehatan diri dan orang lain. Lebih dari itu, mematuhi protokol kesehatan artinya mempertahankan barisan dakwah ini agar tidak bolong karena satu orang gugur karena Covid 19.


Sebab antum adalah orang-orang mahal. Antum adalah para pewaris sejarah yang mengemban risalah langit untuk penduduk  bumi. Kalau antum gugur di tengah jalan karena tidak bisa menjaga diri dari wabah, maka belum tentu akan lahir seribu orang yang memiliki karakter seperti antum.


Jaga jiwa antum, supaya antum bisa jaga agama dan bangsa!

Muhammad Zulkifli 

Bogor, 1 Agustus 2021

 

 

TerPopuler