BOGOR, Bangkapost.com - Digitalisasi telah mengubah cara masyarakat mencari dan membeli berbagai kebutuhan. Marketplace membuat konsumen dapat menemukan produk dari berbagai daerah tanpa harus datang langsung ke lokasi penjual.
Namun, mekanisme tersebut tidak selalu sederhana ketika diterapkan pada sektor peternakan.
Bibit ternak, pakan, vitamin, peralatan kandang, hingga hasil ternak memiliki karakteristik yang berbeda dengan barang konsumsi biasa. Selain persoalan transaksi, terdapat ketersediaan produk, waktu pengiriman, kondisi barang, jalur transportasi, hingga akses pasar yang harus diperhitungkan.
Persoalan tersebut menjadi salah satu hal yang selama ini diperhatikan PT Lazia Cahya Indonesia, perusahaan agen kebutuhan bibit ternak yang telah menjalankan aktivitas perdagangan secara online melalui Tokopedia Lazia Indonesia selama lebih dari delapan tahun.. Selama perjalanan tersebut, Lazia tidak hanya berhadapan dengan proses penjualan, tetapi juga dengan berbagai kondisi yang muncul ketika produk harus dikirim dan diterima konsumen di wilayah yang berbeda.
Bukan Sekadar Transaksi, Distribusi Menjadi Bagian Penting
Bagi Lazia Indonesia, transaksi melalui internet sebenarnya hanyalah awal dari sebuah proses yang lebih panjang.
Ketika konsumen membeli DOC atau bibit ternak dari lokasi yang berbeda dengan sentra pembibitan, terdapat sejumlah tahapan yang harus diperhatikan. Produk harus tersedia sesuai jadwal, dipersiapkan, kemudian masuk ke jalur distribusi yang sesuai dengan karakteristik bibit ternak dan tujuan pengiriman.
Pengalaman tersebut membuat Lazia melihat bahwa persoalan distribusi peternakan tidak dapat sepenuhnya disamakan dengan pengiriman barang umum. Ada kondisi tertentu yang membutuhkan jalur transportasi khusus, penyesuaian waktu, serta koordinasi antara penjual, pihak transportasi, dan penerima.
Sebagai agen yang berpusat di Bogor dan terbiasa melayani tantangan logistik, Lazia memiliki keunggulan tersendiri dalam menangani pengiriman khusus ke luar pulau melalui koordinasi langsung di bandara (seperti Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Juanda).
“Selama bertahun-tahun kita melihat langsung bagaimana prosesnya di lapangan. Jadi kita tidak hanya melihat transaksi dari sisi pembeli dan penjual, tetapi juga bagaimana produk tersebut bisa sampai ke tujuan, bagaimana peternak mendapatkan kebutuhannya, dan persoalan apa yang muncul setelah transaksi,” ujar Direktur PT Lazia Cahya Indonesia, Eddy Cahyadi.
Peternak Menghadapi Persoalan dari Hulu hingga Hilir
Menurut Lazia, tantangan yang dihadapi peternak sebenarnya tidak berdiri sendiri. Peternak membutuhkan akses terhadap bibit berkualitas, lalu setelah proses ternak memasuki masa panen, mereka kembali menghadapi persoalan lain, yaitu bagaimana hasil ternak dapat dipasarkan dengan harga yang layak.
Kondisi harga komoditas sendiri masih menjadi perhatian pemerintah. Kementerian Pertanian pada 2026 beberapa kali mengambil langkah untuk menjaga harga telur di tingkat peternak, menetapkan serta mengawal harga acuan pembelian, serta mendorong penguatan serapan agar peternak rakyat tidak dirugikan.
Kementan juga mencatat sekitar 95–98 persen usaha ayam petelur nasional masih dijalankan oleh peternak mandiri dan rakyat, yang menunjukkan besarnya peran mereka dalam rantai pasok nasional.
Bagi Lazia Indonesia, kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan peternak tidak berhenti pada akses terhadap bibit, melainkan juga memerlukan informasi, distribusi, layanan pendukung, dan instrumen yang tepat dalam mengambil keputusan usaha.
Marketplace Membuka Pasar, tetapi Belum Menjawab Semua Kebutuhan
Marketplace telah memberikan perubahan besar dalam cara pelaku usaha menjangkau konsumen. Namun, bagi pelaku usaha, penggunaan platform digital juga membawa tantangan tersendiri.
Kementerian UMKM menyebut biaya layanan yang dikenakan marketplace kepada pelaku usaha berada pada kisaran 10–18 persen, di luar biaya promosi atau iklan. Pemerintah kemudian menerbitkan Peraturan Menteri UMKM Nomor 3 Tahun 2026 yang antara lain mengatur perlindungan dan peningkatan daya saing UMK dalam perdagangan melalui sistem elektronik.
Persoalan biaya tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pelaku usaha mulai mempertimbangkan kembali ketergantungan terhadap marketplace umum. Bagi produk peternakan, persoalannya bahkan jauh lebih kompleks karena menyangkut karakteristik makhluk hidup dan rantai pasok logistik yang spesifik.
“Marketplace sangat membantu membuka akses pasar. Tetapi dari pengalaman kami, kebutuhan peternakan itu lebih luas. Peternak bukan hanya membutuhkan tempat untuk membeli atau menjual produk,” kata Eddy.
Menuju Ekosistem Peternakan Digital yang Terintegrasi
Pengalaman lebih dari delapan tahun tersebut membawa Lazia Indonesia pada satu kesimpulan: digitalisasi peternakan membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Hal ini juga tergambar dalam Video TikTok Lazia Indonesia yang membahas perjalanan dan pengembangan ekosistem digital perusahaan.
Konsep yang disiapkan mencakup kemudahan bagi peternak untuk mendapatkan bibit, pakan, hingga vitamin, serta menghubungkan mereka dengan pasar yang lebih luas. Selain itu, platform ini dirancang untuk merangkum komunitas peternak lintas daerah serta menyediakan fitur pendukung usaha seperti pencatatan modal, target panen, hingga konsultasi kesehatan hewan.
Bahkan untuk jangka panjang, perusahaan melihat peluang integrasi teknologi Internet of Things (IoT) untuk membantu pemantauan kondisi kandang secara jarak jauh. Kendati demikian, seluruh pengembangan ini masih berada dalam tahap penyempurnaan internal.
Bagi Lazia, teknologi bukanlah tujuan utama, melainkan alat untuk menjawab persoalan riil yang selama ini ditemui di lapangan. Dan dengan fondasi pengalaman panjang di Bogor serta jaringan distribusi nasional yang kuat, PT Lazia Cahya Indonesia siap membawa sektor peternakan Indonesia melangkah ke babak digital yang lebih matang.
